Senin, 23 Maret 2015

Genetik Ungkap Migrasi Manusia Neolitik Ke Eropa


2014
Dikalangan sejarawan, mereka masih mempertanyakan bagaimana manusia periode Neolitik migrasi ke Eropa. Saat ini, para pakar arkeolog menggunakan transisi yang terjadi pada pemburu-pengumpul dan bukti pertanian untuk menandai beraakhirnya era Paleolitik dan awal era Neolitik. 
Studi ini diterbitkan dalam jurnal Prosiding National Academy of Sciences edisi 6 Juni 2014, menganalisa penanda genetik populasi modern mungkin memberikan petunjuk baru tentangpergerakan manusia periode Neolotik

Peran Pelaut Bawa Budaya Neolitik Ke Eropa

Antara tahun 8800 hingga 10,000 SM di Levant, wilayah Mediterania timur (saat ini meliputi Israel dan Tepi Barat, Yordania, Suriah, dan bagian dari Turki selatan) orang-orang mulai belajar bagaimana mengembangkan tanaman biji-bijian. Perkembangan ini akhirnya memungkinkan mereka meninggalkan kehidupan lama sebagai manusia nomaden pemburu-pengumpul dan menjadi petani.
Bukti arkeologi menunjelaskan bahwa pada tahun 7000 SM para petani Neolitik telah pindah ke Eropa. Mereka mengembangkan ide dan genetik kepada orang-orang Paleolitik asli yang telah bermigrasi ke benua eropa sekitar 30,000 hingga 40,000 tahun yang lalu. Metode transportasi dan rute perjalanan Neolitik telah lama dipertanyakan, apakah mereka melakukan perjalanan darat dengan cara migrasi pertama ke utara dari Levant ke Anatolia (saat ini pusat Turki) di seberang Bosporus dan kemudian melalui Balkan ke Eropa Tengah.
Migrasi Manusia Periode Neolotik
Atau mungkin mereka berpindah melalui laut? Apakah mereka berpindah langsung dari pantai Levant ke Crete dan kemudian menyeberang ke Yunani, seperti salah satu yang disebutkan dalam teori terdahulu? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut, tim peneliti internasional yang dipimpin oleh George Stamatoyannopoulos melihat tanda-tanda genetik yang ditemukan pada 32 populasi modern dimulai dari Near East dan Afrika Utara, Anatolia, Kepulauan Aegean dan Crete, Yunani, Eropa Utara dan Selatan.
Stamatoyannopoulos dan rekannya membandingkan proporsi atau frekuensi yang disebut Single Nucleotide Polymorphisms (SNP). Ketika orang-orang bermigrasi ke suatu daerah dan bercampur dengan penduduk setempat, gen mereka membaur bersama gen asli dan melahirkan gen orang-orang pribumi. Generasi berikutnya terus bermigrasi dan pertukaran gen terus berulang, sehingga frekuensi SNP dalam populasi yang bermigrasi akan mencerminkan pencampuran genetik, semua ini terdeteksi dalam populasi yang ditinggalkan.
Ilmuwan berhipotesis bahwa imigran Neolitik ke Eropa telahberpindah melalui jalur laut. Mereka menguji hipotesis dengan membandingkan frekuensi SNP pada populasi yang kini menghuni Levant, Turki, pulau-pulau Aegean dan Laut Tengah dan Eropa dan Afrika Utara. 
Analisis menegaskan imigran Neolitik awalnya muncul dari Levant, kemudian migrasi pertama menuju Anatolia di Turki tengah, di seberang Dodecanese, menuju Crete dan kemudian ke Laconia di ujung tenggara Yunani. Beberapa populasi bergerak ke utara Yunani, namun sebagian besar migrasi ke barat, Sisilia, kemudian ke pantai Mediterania Eropa Selatan, dan ke Eropa Utara.
Menurut Stamatoyannopoulos, migrasi manusia periode Neolitik ke Eropa melalui rute darat, tetapi rute dominan melalui Anatolia dan kemudian melalui jalur laut, sementara Crete berfungsi sebagai penghubung utama. Pakar ilmuwan juga melihat aliran gen pada populasi di Semenanjung Arab dan Afrika Utara. Mereka menemukan bahwa migrasi orang-orang Neolitik yang berasal dari Near East juga pindah ke tenggara Arabia, dan melalui Mesir serta disepanjang pantai Afrika Utara.
Tidak ada bukti yang menjelaskan keberadaan aliran gen yang ada di Mediterania adalah turunan antara Afrika dan Eropa. Meskipun laut sangat memungkinkan imigran untuk bergerak di sepanjang pantai, tetapi hal itu merupakan penghalang yang tangguh antara dua benua. Budaya Neolitik menyebar terutama disebabkan difusi budaya itu sendiri, dimana ide-ide bergerak dari populasi melalui kontak budaya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar