Rabu, 25 Maret 2015

Misteri Sastra Kuno Jepang, Puisi Hotsuma-Tsutae


2014
Hotsuma-Tsutae adalah sebuah puisi epik lebih dari 10,000 baris yang ditulis Yamato-Kotoba, salah satu sastra kuno Jepang. Puisi ini menceritakan kisah para Dewa yang mendiami Jepang selama periode Jomon Akhir, Yayoi, dan Kofun Awal, zaman yang membentang lebih dari seribu tahun sejak abad ke-8 SM sampai abad ke-3 Masehi. 
Beberapa sarjanawan berpendapat bahwa puisi Hotsuma-Tsutae mungkin telah ditulis pada periode Edo, hal ini disebabkan dugaan bahwa teks ditulis dalam alfabet asli Jepang. Sementara dikalangan akademisi menolak pendapat bahwa sistem tulis menulis di Jepang sebelum adanya penggunaan karakter Cina, teori lain menyatakan bahwa teks itu palsu, tidak ada kesimpulan pasti tentang sastra kuno Jepang, puisi Hotsuma-Tsutae.
Puisi ini berisi tentang Dewa dan raja-raja Zaman Kepahlawanan sebagai individu yang nyata di Jepang, dan pandangan dunia paralel tentang ajaran esoterik sekte Budha pada abad pertengahan. Puisi Hotsuma-Tsutae juga berisi risalah panjang tentang asal-usul bahasa Jepang serta teori materi Alkimia, diet vegetarian untuk membersihkan jiwa dan memperpanjang kehidupan. 

Misteri Sepuluh Ribu Baris Puisi Hotsuma-Tsutae

Kushimikatama, penulis puisi Hotsuma-Tsutae, dia seorang menteri pada masa pemerintahan Kaisar Jimmu dan Ohotataneko yang hidup di pemerintahan Kaisar Keiko. Kushimikatama menulis dua jilid pertama, Kitab Surga dan Kitab Bumi. Kemudian Ohotataneko mengedit sastra kuno Jepang tersebut dan menambahkan volume ketiga, Kitab Manusia
Puisi Hotsuma-Tsutae, sastra kuno jepang
Puisi Hotsuma-Tsutae telah diadaptasi kedalam bahasa Jepang kontemporer oleh Seiji Takabatake dan bahasa Inggris oleh Andrew Driver. Terjemahan Hotsuma-Tsutae kata demi kata, begitu banyak sastra asli diselimuti misteri alegori kuno dan ritual. Banyak unsur kosakata tidak memiliki kesamaan dalam bahasa modern sastra 'asing' masih diperdebatkan. Seiji Takabatake, Presiden Japan Translation Centre di Tokyo, terlibat langsung dalam penelitian puisi Hotsuma-Tsutae selama lebih dari 30 tahun. Dia terus berhubungan dekat dengan Yoshinosuke Matsumoto, seorang yang bertanggung jawab dalam mengupas misteri puisi Hotsuma-Tsutae setelah ditemukan pada tahun 1966.
Beberapa sejarawan menyatakan bahwa sastra kuno Hotsuma-Tsutae sudah ada jauh sebelum adanya mitologi Jepang. Naskah pertama yang dikenal didedikasikan Waniko Yasutoshi untuk sebuah kuil (juga dikenal sebagai Yunoshin Ibo) pada 1775. Beberapa kutipan yang diterbitkan dan diterjemahkan kedalam bahasa Jepang modern tahun 1884, Naskah Yasutoshi ini hampir hilang, tapi ditemukan kembali pada tahun 1993 setelah penerbitan beberapa buku populer pada pertengahan abad ke-20 oleh Yoshinosuke Matsumoto.
Seiring berjalannya waktu, masing-masing 40 Aya (bab) Hotsuma-Tsutae mendapatkan kata yang pantas (arti bahasa yang sesuai) dalam bahasa Jepang dan Inggris. Kesamaan kosakata atau bahasa ini mungkin tidak muncul dalam urutan yang sama seperti aslinya, tapi tujuannya untuk menempatkan pengertian yang sesuai dengan isi puisi Hotsuma-Tsutae.

Awa-no-Uta, Naskah Kitab Surga

Awa-no-Uta adalah lagu yang dimulai dengan huruf 'a' dan berakhir dengan 'wa'. Huruf ini ini ada dalam setiap karakter naskah 48 Hotsuma-Tsutae dan muncul pada bab pertama Kitab Surga.
Pada masa pemerintahan Omotaru (pria) dan Kashikone (wanita), generasi penguasa ke-6, kedua pemimpin melintasi seluruh negeri dan bekerja keras untuk mengembangkan pertanian. Makanan yang berlimpah, orang-orang hidup dengan baik, bangsa diatur baik dan damai. Tapi, Omotaru dan Kashikone tidak diberkati ahli waris dan setelah kematian mereka negara memasuki pelanggaran hukum dan gangguan. 
Kemudian pangeran Takahito dan putri Isako, di bawah perintah Takamagahara (Dataran Tinggi Surgawi) menikah di istana Isa (Tsukuba) dan mengambil kendali pemerintahan sebagai Isanagi dan Isanami, generasi penguasa ke-7. Mereka menghidupkan kembali produktivitas pertanian di pusat Dataran Tanah Merah (Ashihara Nakakuni, kini Shiga) menggunakan tombak ilahi yang diwarisi dari nenek moyang mereka sebagai simbol otoritas. Pada saat yang sama, mereka mulai membuat standardisasi bahasa nasional yang terpolarisasi dalam dialek yang hampir tidak dimengerti.
Untuk menciptakan tujuan ini, mereka mempekerjakan bentuk lagu yang disebut Awa-no-Uta. Bernyanyi dalam harmoni dengan iringan alat musik, Isanagi akan melagukan 24 suara tinggi dan Isanami 24 suara rendah. Dengan cara ini, mereka mencoba untuk membakukan jumlah suara kedalam bahasa dan sama-sama berupaya mengembangkan pertanian, hal ini membantu membawa bangsa kembali berpijak pada kakinya.

Kitab Ramalan, Hotsuma Futomani 

Toyoke, penguasa provinsi utara merayakan hari Dewa yg mengawasi kuil terluar Ise, menyusun grafik menggunakan 51 simbol fonetik untuk mewakili 49 Dewa yang berada di langit. Dia memberikan semua ini kepada putrinya Isanami dan suaminya Isanagi, kedelapan garis penguasa ilahi Jepang.
sastra kuno jepang, Hotsuma Futomani
Amateru, putra Isanagi dan Isanami, memiliki bangsawan yang menulis puisi berdasarkan bagan Toyoke. Dia memilih 128 yang kemudian ditetapkan sebagai Kitab Ramalan Futomani (ramalan ritual Shinto).
Simbol A-U-WA dalam lingkaran mewakili Amemiwoya, pencipta langit dan bumi. Amemiwoya (Dewa Leluhur Surgawi).
TO-HO-KA-MI-YE-HI-TA-ME dibagian cincin pertama merupakan delapan dewa yang menciptakan jiwa manusia, dihubungkan kedalam bentuk fisik dan mengatur rentang kehidupan manusia. Amoto (Dewa Asal Surgawi).
A-I-HU-HE-MO-WO-SU-SI di bagian cincin kedua merupakan Dewa yang mengatur arah mata angin, bahasa, dan organ tubuh manusia. Anami (Dewa Keseimbangan Surgawi).
Tiga puluh dua simbol dalam dua cincin luar mengatur bentuk fisik luar manusia dan melindungi siang dan malam. Dewa Misofu (Tiga Puluh Dua Dewa).
Teks Hotsuma-Tsutae yang diterjemahkan Yamato-Kotoba membahas tentang kelahiran, kehidupan, dan kematian 'Kami' dari kuil kuno Jepang dan sejarah. Dalam hal ini, kata 'Kami' yang digunakan ditujukan kepada sesuatu seperti bangsawan, bukan Dewa. Dalam sastra kuno Jepang, Amaterasu (matahari 'Kami' Shinto) adalah laki-laki dan bukan perempuan seperti yang tertulis dalam catatan sejarah resmi. Menurut Matsumoto, Amaterasu feminin dalam Kojiki dan Nihon Shoki untuk memberikan pembenaran pemerintahan Ratu Suiko, seorang Ratu yang memerintah sebelum sastra kuno Jepang itu ditulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar